Pembagian Warisan Bagi Ahli Waris Yang Hilang Di Desa Siwalan Kecamatan Mlarak Kabupaten Ponorogo Dalam Perspektif Madzhab Maliki

Aulia Muntaza, Nadham (2025) Pembagian Warisan Bagi Ahli Waris Yang Hilang Di Desa Siwalan Kecamatan Mlarak Kabupaten Ponorogo Dalam Perspektif Madzhab Maliki. Undergraduate (S1) thesis, IAIN Ponorogo.

[thumbnail of Nadham Aulia M Ethesis.pdf]
Preview
Text
Nadham Aulia M Ethesis.pdf

Download (4MB) | Preview

Abstract

Waris adalah perindahan kepemilikan dari seseorang yang telah meninggal dunia kepada ahli waris yang masih hidup. Meskipun telah dijelaskan secara terperinci, dalam praktiknya waris memiliki beberapa tantangan, Salah satu tantanganya ialah jika terdapat pewaris atau ahli waris yang hilang, hal tersebut terjadi di desa Siwalan kecamatan Mlarak kabupaten Ponorogo, tepatnya terjadi kepada keluarga mbah Suparmi.
Mbah Sujono meninggal, dan meninggalkan lima ahli waris, yakni tiga anak laki-laki, satu anak perempuan, dan istrinya. Diketahui bahwa masing-masing ahli waris kecuali istri mendapatkan yang sama, yakni seperempat. Begitupun bagi ahli waris yang mafqūd. Yang menjadi masalah adalah tidak adanya batas waktu menunggu mengenai harta yang diberikan kepada bapak Samsudin, dengan kondisinya yang dianggap hilang, tidak diketahui lagi hidup dan matinya. Madzhab Maliki berpendapat bahwa umur manusia adalah sampai umur 70 tahun. Pendapat ini merupakan pendapat yang rajih atau terkuat. Dalam madzhab ini pula disebutkan bahwa keputusan mengenai keputusan mafqūd masih hidup atau sudah meninggal diserahkan sepenuhnyakepada qadhi sesuai situasi dan kondisi saat itu
Hasil dari penelitian ini, Pertama, Mengenai statusnya, meskipun telah meninggalkan rumah selama 33 tahun. Karena tidak ada keputusan oleh qadi (hakim), maka ia tetap dihukumi masih hidup, yang dilakukan keluarga mbah Suparmi sudah tepat, yakni tetap menganggap bahwa bapak Samsudin masih hidup. Namun, para ahli waris hendaknya bersepakat, apabila dalam kurun waktu 70 tahun dari masa hidup bapak Samsuddin belum pulang juga dan keluarga sudah mengupayakan mencari keberadaannya tetapi tidak diketahui sama sekali. Maka permasalahan tersebut hendaknya dibawa ke Pengadilan.
Kedua, Mengenai pembagian hartanya, karena belum ada keputusan dari qadi (hakim), Keputusan yang dilakukan oleh keluarga mbah Suparmi sudah tepat, dengan menganggap bapak Samsudin masih dianggap hidup, diketahui bahwa bagian yang diterimanya sesuai dengan syariat, dimana ia mendapatkan seperempat bagian. Para ahli waris lain wajib menjaga harta tersebut, hingga diketahui secara pasti hidup dan matinya bapak Samsudin.

Item Type: Thesis (Undergraduate (S1))
Thesis Supervisor: Udin Safala
Subjects: 18 LAW AND LEGAL STUDIES > 1899 Other Law and Legal Studies > 189999 Law and Legal Studies not elsewhere classified
Divisions: Fakultas Syariah > Jurusan Hukum Keluarga Islam
Depositing User: Perpustakaan Pusat
Date Deposited: 10 Jun 2025 07:23
Last Modified: 10 Jun 2025 07:23
URI: http://etheses.uinponorogo.ac.id/id/eprint/33228

Actions (login required)

View Item View Item