Pandangan Tokoh Nahdlatul Ulama (NU) Ponorogo Tentang Batasan-Batasan Pergaulan Dengan Saudara Ipar Dalam Berumah Tangga

Oktafiani, Putri (2025) Pandangan Tokoh Nahdlatul Ulama (NU) Ponorogo Tentang Batasan-Batasan Pergaulan Dengan Saudara Ipar Dalam Berumah Tangga. Undergraduate (S1) thesis, IAIN Ponorogo.

[thumbnail of PUTRI OKTAFIANI 101210164 SKRIPSI.pdf]
Preview
Text
PUTRI OKTAFIANI 101210164 SKRIPSI.pdf

Download (1MB) | Preview

Abstract

Oktafiani, Putri. 2025. Pandangan Tokoh Nahdlatul Ulama (NU) Ponorogo Tentang Batasan-batasan Pergaulan Dengan Saudara Ipar Dalam Berumah Tangga. Skripsi Jurusan Hukum Keluarga Islam Fakultas Syari’ah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ponorogo.
Pembimbing Dr. Hj. Rohmah Maulidia, M. Ag.
Kata Kunci/Keyword : Nahdlatul Ulama (NU), Interaksi Keluarga, Ipar, Mahram.
Dalam pernikahan akan menghadapi tantangan salah satunya interaksi antara pasangan suami istri dan ipar. Sedangkan ipar dalam Islam adalah mahram muaqqat (mahram sementara) baik ipar suami maupun ipar dari pihak istri. Artinya pergaulan dengan ipar sama halnya dengan pergaulan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram. Sebagian ulama berpendapat Syekh Muhammad bin Qasim Al-Ghazzi dalam Fathul Qarib menguraikan batasan aurat laki-laki dan perempuan, sekaligus ketentuan dalam menjaga pandangan di antara keduanya.
Rasulullah telah memberikan peringatan dalam sebuah hadist “al-hamwu al-mautu” menyebutkan bahwa ipar adalah maut. Karena terkadang orang yang sudah berpasangan tidak terlalu menjaga batasan-batasannya dengan adik atau kakak iparnya dalam hal bersentuhan kulit ataupun menutup aurat lantaran terbiasa menganggap ipar bukanlah ajnabi (orang asing). Dalam hal ini menimbulkan pertanyaan bagaimana batasan pergaulan dengan ipar dalam berumah tangga.
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) bagaimana pandangan tokoh nahdlatul ulama (NU) ponorogo mengenai interaksi antara pasangan suami istri dan ipar? (2) bagaimana bentuk upaya edukasi yang dilakukan tokoh nahdlatul ulama (NU) ponorogo dalam menyampaikan batasan pergaulan dengan saudara ipar?
Adapun skripsi ini merupakan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian lapangan (field research) dengan pendekatan normatif. Sedangkan teknik pengumpulan data dengan menggunakan wawancara dan dokumentasi di daerah Kabupaten Ponorogo. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif.
Dari penelitian yang dilakukan selama skripsi dapat disimpulkan bahwa tokoh NU memandang ipar sebagai non-mahram yang wajib diperlakukan dengan batasan interaksi sebagaimana diatur dalam syariat Islam. Interaksi yang diperbolehkan hanya sebatas kebutuhan, dengan tetap menjaga adab, aurat, dan menghindari khalwat. Para tokoh NU juga menekankan pentingnya pendidikan akhlak, keteladanan dalam keluarga, dan pendekatan budaya Islam melalui pengajian, dialog keagamaan serta dakwah untuk membentengi masyarakat dari praktik yang menyimpang. Para tokoh NU melalui pemahaman yang didasarkan pada hadist Rasulullah SAW: al-hamwu al-maut (ipar adalah maut). Bahwa pentingnya peningkatan edukasi kepada masyarakat mengenai etika interaksi dalam keluarga besar menurut fiqih, guna menjaga keharmonisan rumah tangga dan mencegah pelanggaran syariat.

Item Type: Thesis (Undergraduate (S1))
Thesis Supervisor: Rohmah Maulidia
Subjects: 18 LAW AND LEGAL STUDIES > 1899 Other Law and Legal Studies > 189999 Law and Legal Studies not elsewhere classified
Divisions: Fakultas Syariah > Jurusan Hukum Keluarga Islam
Depositing User: Perpustakaan Pusat
Date Deposited: 13 Jun 2025 08:12
Last Modified: 13 Jun 2025 08:12
URI: http://etheses.uinponorogo.ac.id/id/eprint/33409

Actions (login required)

View Item View Item