Muhklisoh, Ummi (2025) MENDARAS ULANG MAKNA AYAT KUNCI-KUNCI KEGAIBAN (Studi Komparatif Tafsīr al-Ṭabarī dan Tafsīr al-Mishbāh pada Sūrah Luqmān Ayat 34). Undergraduate (S1) thesis, IAIN Ponorogo.
Preview |
Text
301210086_Ummi Muhklisoh_IAT.pdf Download (2MB) | Preview |
Abstract
Muhklisoh, Ummi, 2025. Mendaras Ulang Makna Ayat Kunci-Kunci Kegaiban (Studi Komparatif Tafsīr al-Ṭabarī dan Tafsīr al-Mishbāh pada Sūrah Luqmān Ayat 34). Skripsi Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah. Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir. Institut Agama Islam Negeri Ponorogo. Pembimbing: Dr. Faiq Ainurrofiq, M.A.
Kata Kunci: Kunci-Kunci Kegaiban, Studi Komparatif, Tafsīr al-Ṭabarī, Tafsīr al-Mishbāh.
Sering ditemukan perbedaan penafsiran antar mufasir pada suatu ayat ataupun sūrah dalam Al-Qur’an. Di antara sebab perbedaan penafsiran ini bisa karena pergeseran metode yang berlaku dalam dunia tafsir Al-Qur’an. Sebagai contoh pada penafsiran sūrah Luqmān ayat 34 yang menunjukkan sisi perbedaan yang mencolok antara mufasir klasik seperti Ibn Jarīr al-Ṭabarī dan kontemporer seperti M. Quraish Shihab dalam menafsirkan ayat tentang lima “kunci-kunci kegaiban” pada sūrah Luqmān ayat 34.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gagasan al-Ṭabarī dan Quraish serta memahami perbedaan penafsiran keduanya pada sūrah Luqmān ayat 34 berdasarkan kitab Tafsīr al-Ṭabarī dan Tafsīr Al-Mishbāh. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis komparatif. Pengumpulan data menggunakan teknik dokumentasi dari kedua kitab tersebut. Data yang terkumpul kemudian direduksi, disajikan untuk selanjutnya dilakukan penarikan kesimpulan.
Adapun hasil penelitian ini adalah: Dalam menafsirkan ayat tentang kunci-kunci kegaiban secara umum al-Ṭabarī melihat itu sebagai gaib mutlak, berbeda dengan Quraish. Pada penafsiran tentang penurunan hujan, al-Ṭabarī menafsirkannya sebagai gaib mutlak, yakni tidak ada yang bisa menurunkan dan mengetahui kapan hujan turun selain Allah. Sedangkan menurut Quraish ini tidak termasuk gaib mutlak karena di zaman ini manusia sudah bisa memperkirakan kapan hujan turun. Pada penafsiran tentang pengetahuan apa yang ada di dalam rahim, al-Ṭabarī menafsirkannya sebagai gaib mutlak, yakni tidak seorang pun dapat mengetahui jenis kelamin bayi yang ada di dalam rahim. Sedangkan menurut Quraish, sekarang kegaiban jenis ketiga ini sudah bukan tentang jenis kelamin bayi, melainkan berupa segala sesuatu yang lebih luas dari itu. Adapun tentang kapan kiamat terjadi, apa yang akan diusahakan seseorang esok, dan di mana seseorang akan mati, al-Ṭabarī dan Quraish sama-sama menafsirkannya sebagai gaib mutlak. Selain karena pergeseran metode, sebab perbedaan al-Ṭabarī dan Quraish dalam menafsirkan ayat ini adalah adanya perbedaan kondisi sosial pada saat ayat Al-Qur’an ditafsirkan dan pengambilan pendapat oleh kedua mufasir. Al-Ṭabarī banyak mengutip pendapat para sahabat dan tābi’īn, sedangkan Quraish mengutip pendapat dan ijtihad ulama lain serta sains modern, lalu diikuti ijtihadnya sendiri di antara penafsiran ulama yang ia kutip.
| Item Type: | Thesis (Undergraduate (S1)) |
|---|---|
| Thesis Supervisor: | Faiq Ainurrofiq |
| Subjects: | 22 PHILOSOPHY AND RELIGIOUS STUDIES > 2299 Other Philosophy and Religious Studies > 229999 Philosophy and Religious Studies not elsewhere classified |
| Divisions: | Fakultas Ushuluddin dan Dakwah > Jurusan Ilmu Al Qur’an dan Tafsir |
| Depositing User: | Perpustakaan Pusat |
| Date Deposited: | 30 Jun 2025 06:54 |
| Last Modified: | 30 Jun 2025 06:54 |
| URI: | http://etheses.uinponorogo.ac.id/id/eprint/34669 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
