Alyase, Nadea Agusta (2025) TRADISI PEMBACAAN DZIKIR AL-MA’TSŪRĀT (Studi Living Qur’an di PP. Darut Taqwa Putri Bekare Bungkal Ponorogo). Undergraduate (S1) thesis, UIN Ponorogo.
Preview |
Text
301210066_Nadea Agusta Alyase_Ilmu Al Qur'an dan Tafs-1.pdf Download (1MB) | Preview |
Abstract
Penelitian ini memaparkan fenomena Living Qur’an yang berkembang di
lingkungan pesantren. Wujd dari fenomena tersebut tampak dalam kegiatan rutin
pembacaan dzikir al-mat’surat di Pondok Pesantren Darut Taqwa Putri Bekare
Bungkal Ponorogo. Tradisi ini menjadi salah satu media pembinaan Spiritual dan
penguatan karakter religius santriwati melalui amalan dzikir pagi dan petang
sebagaimana diajarkan oleh Hasan Al-Banna. Fokus Permasalahan dalam
penelitian ini adalah mengetahui teknis pelaksanaan, motif pelaksanaan serta
makna yang terkandung dibalik tradisi pembacaan dzikir al-ma’surat di pondok
tersebut. Tujuan dari penelitian ini ialah mendeskripsikan bagaimana pelaksanaan
tradisi dilakukan, mengungkap berbagai motif spiritual dan sosial yang
melatarbelakanginya, serta menjelaskan makna religius yang terkandung dalam
praktik pembacaan dzikir Al-Ma’tsūrāt.
Pendekatan penelitian ini ialah kualitatif jenis field reaserch (penelitian
lapangan). Teknis pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara,
dokumentasi, studi kepustakaan. Subjek dalam penelitian ini adalah warga Pondok
Pesantren Darut Taqwa Putri. Untuk menentukan keabsahan data, penulis
menggunakan teknik triangulasi. Analisis data menggunakan teori sosiologi
pengentahuan Karl Mannheim dan pendekatan fenomelogis teori motif Alferd
Scutz.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tradisi ini dilaksanakan setiap hari
secara berjamaahyaitu pada pagi hari setelah sholat Subuh dan ada sore hari
sebelum Magrib. Penelitian ini mengkaji motif dan makna yang terkandung dalam
tradisi pembacaan dzikir Al-Ma’tsūrāt dikalangan santri. Motif tradisi ini terbagi
menjadi dua, yaitu motif karena dan motif supaya. Motif karena meliputi
pelaksanaan dzikir sebagai kewajiban institusional, pembentukan kepribadian
religius santri, serta perwujudan kecintaan kepada Rasulullah SAW. Sementara itu,
motif supaya mencakup tujuan untuk meraih perlindungan Allah SWT, mensyukuri
nikmat-Nya, dan menjaga keistiqamahan santri pasca mondok. Adapun makna yang
terkandung dalam tradisi ini terdiri atas tiga aspek. Pertama, makna objektif, yakni
dzikir sebagai sarana pembenteng spiritual, sebagai tola bala’, dan sebagai rutinitas
kolektif harian. Kedua, makna ekspresif, yaitu dzikir sebagai sumber ketenangan
hati, kedamaian batin, sarana ruqyah mandiri, pembawa keberkahan hidup, sumber
kebahagiaan, dan sarana pengampunan dosa. Ketiga, makna dokumenter, yaitu dzikir sebagai tradisi religius pembentuk identitas santri, simbol nilai spiritual dan
sosial, serta warisan budaya pesantren yang terus dilestarikan melalui rutinitas
keseharian.
| Item Type: | Thesis (Undergraduate (S1)) |
|---|---|
| Thesis Supervisor: | Moch. Alwy Amru Ghazali |
| Subjects: | 22 PHILOSOPHY AND RELIGIOUS STUDIES > 2299 Other Philosophy and Religious Studies > 229999 Philosophy and Religious Studies not elsewhere classified |
| Divisions: | Fakultas Ushuluddin dan Dakwah > Jurusan Ilmu Al Qur’an dan Tafsir |
| Depositing User: | Perpustakaan Pusat |
| Date Deposited: | 27 Nov 2025 03:30 |
| Last Modified: | 27 Nov 2025 03:30 |
| URI: | http://etheses.uinponorogo.ac.id/id/eprint/35803 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
