Suyanti, Suyanti (2026) ..(TAMBAHKAN MATERAI PADA LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI ETHESIS, UPLOAD ULANG).. Proses Pewahyuan Kepada Para Nabi Di Dalam Al-Qur'an Perspektif Linguistik Pragmatik. Undergraduate (S1) thesis, UIN Kiai Ageng Muhamad Besari.
Preview |
Text
301220059_Suyanti_IAT-1.pdf Download (2MB) | Preview |
Abstract
Kata Kunci: Pewahyuan, ḍamīr, munādā, linguistik pragmatik, deiksis persona, tindak tutur, gradasi kedekatan relasional.
Perbedaan penggunaan ḍamīr (kata ganti) dan munādā (panggilan) dalam ayat-ayat pewahyuan kepada para nabi, utamanya kelima nabi berikut: Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad menjadi latar belakang penelitian ini. Sebab variasi tersebut diduga bukan sekadar pilihan stilistika, melainkan instrumen pragmatis yang mencerminkan gradasi kedekatan relasional antara Allah dan para nabi. Oleh karenanya penelitian ini memaparkan bentuk-bentuk pewahyuan kepada kelima nabi, menganalisis ciri pragmatik yang membedakan pewahyuan tersebut berdasarkan perbedaan ḍamīr dan munādā, serta mengungkap makna perbedaan bentuk dan ciri pragmatik.
Pendekatan dalam penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan jenis library research. Data primernya berupa ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan pewahyuan kepada kelima nabi, serta tafsir Al-Misbah dan Al-Qurtubi. Data dianalisis menggunakan teori linguistik pragmatik, khususnya konsep deiksis persona (yang disejajarkan dengan ḍamīr) dan tindak tutur (yang disejajarkan dengan munada).
Kesimpulan akhir menyatakan bahwa bentuk pewahyuan bervariasi: ilham langsung (Nuh), mimpi benar (Ibrahim), suara dari balik tabir (Musa), dan melalui perantara malaikat Jibril (Isa dan Muhammad). Ciri pragmatik yang membedakan terletak pada pilihan ḍamīr dari ghaib pasif (Nuh) bergeser ke mutakallim jamak seperti “Kami” yang digunakan dalam pewahyuan kepada nabi (Ibrahim, Muhammad) dan mutakallim tunggal “Aku” (Musa, Isa). Selain itu pilihan munada dengan nama langsung untuk nabi selain Muhammad, dan gelar/sifat untuk Nabi Muhammad. Makna dari perbedaan tersebut mencerminkan gradasi kedekatan relasional: Nabi Nuh merepresentasikan kedekatan formal-konvensional, Nabi Isa kedekatan protektif-korektif, Nabi Musa kedekatan dialogis-transformatif, Nabi Ibrahim kedekatan intim-validatif, dan Nabi Muhammad kedekatan edukatif-konstitutif dan menyeluruh. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan tafsir Al-Qur’an dengan pendekatan pragmatik serta menawarkan tipologi kedekatan emosional dalam komunikasi ilahiyah.
matik
| Item Type: | Thesis (Undergraduate (S1)) |
|---|---|
| Subjects: | 22 PHILOSOPHY AND RELIGIOUS STUDIES > 2299 Other Philosophy and Religious Studies > 229999 Philosophy and Religious Studies not elsewhere classified |
| Divisions: | Fakultas Ushuluddin dan Dakwah > Jurusan Ilmu Al Qur’an dan Tafsir |
| Depositing User: | Perpustakaan Pusat |
| Date Deposited: | 26 May 2026 01:41 |
| Last Modified: | 26 May 2026 01:41 |
| URI: | http://etheses.uinponorogo.ac.id/id/eprint/38292 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
