Konsep Jilbab dalam Penafsiran M. Quraish Shihab dan Sayyid Quthb (Analisis Hermeneutika Fazlur Rahman)

An Nafi'ah, Nabila (2026) Konsep Jilbab dalam Penafsiran M. Quraish Shihab dan Sayyid Quthb (Analisis Hermeneutika Fazlur Rahman). Undergraduate (S1) thesis, UIN KIAI AGENG MUHAMMAD BESARI PONOROGO.

[thumbnail of 301220047_NABILA AN NAFI'AH_ILMU AL-QUR'AN DAN TAFSIR.pdf]
Preview
Text
301220047_NABILA AN NAFI'AH_ILMU AL-QUR'AN DAN TAFSIR.pdf

Download (2MB) | Preview

Abstract

Kajian mengenai ayat-ayat jilbab dalam Al-Qur’an terus menjadi perhatian dalam studi tafsir kontemporer karena adanya perbedaan penafsiran di kalangan mufasir yang dipengaruhi oleh latar belakang keilmuan, metode, serta konteks sosial masing-masing. Ayat-ayat jilbab, khususnya dalam QS. Al-Aḥzāb [33]: 59 dan QS. An-Nūr [24]: 31, tidak hanya dipahami sebagai ketentuan berpakaian, tetapi juga mengandung dimensi moral dan sosial yang luas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pandangan M. Quraish Shihab dan Sayyid Qutb tentang konsep aurat perempuan dalam konteks historis ayat-ayat jilbab, mengkaji persamaan dan perbedaan penafsiran keduanya terhadap ayat-ayat jilbab dalam Al-Qur’an, serta menganalisis penafsiran tersebut melalui pendekatan hermeneutika double movement Fazlur Rahman dan relevansinya dalam konteks kekinian. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research) menggunakan metode deskriptif-komparatif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa M. Quraish Shihab memahami ayat-ayat jilbab secara kontekstual dengan mempertimbangkan latar historis turunnya ayat, sehingga menekankan nilai kesopanan, perlindungan, dan identitas moral perempuan Muslim serta memberikan ruang fleksibilitas dalam penerapannya sesuai perkembangan masyarakat. Sementara itu, Sayyid Qutb menafsirkan ayat-ayat jilbab secara lebih normatif dan tegas sebagai kewajiban syariat, dengan menekankan fungsi jilbab dalam menjaga kehormatan perempuan dan ketertiban sosial. Persamaan keduanya terletak pada pengakuan bahwa jilbab memiliki tujuan moral dan sosial, sedangkan perbedaannya tampak pada corak penafsiran, yaitu kontekstual dan moderat pada M. Quraish Shihab serta tekstual dan normatif pada Sayyid Qutb. Melalui pendekatan hermeneutika double movement Fazlur Rahman, ayat-ayat jilbab dapat dipahami tidak hanya sebagai aturan berpakaian, tetapi juga sebagai representasi nilai-nilai etis universal seperti kesopanan, perlindungan, dan penghormatan terhadap martabat perempuan. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pemikiran M. Quraish Shihab lebih kontekstual dan relevan dengan kondisi masyarakat modern, sementara pemikiran Sayyid Qutb tetap penting dalam menegaskan dimensi normatif ajaran Islam. Dengan demikian, konsep jilbab dalam Al-Qur’an dapat dipahami secara dinamis sebagai bagian dari nilai moral yang tetap relevan dalam kehidupan masyarakat Muslim kontemporer.

Item Type: Thesis (Undergraduate (S1))
Thesis Supervisor: IRMA RUMTIANING UH
Subjects: 22 PHILOSOPHY AND RELIGIOUS STUDIES > 2299 Other Philosophy and Religious Studies > 229999 Philosophy and Religious Studies not elsewhere classified
Divisions: Fakultas Ushuluddin dan Dakwah > Jurusan Ilmu Al Qur’an dan Tafsir
Depositing User: Perpustakaan Pusat
Date Deposited: 07 Jul 2026 01:28
Last Modified: 07 Jul 2026 07:29
URI: http://etheses.uinponorogo.ac.id/id/eprint/42038

Actions (login required)

View Item View Item