Karisma, Dwi Ade (2025) Tradisi Pembacaan Yasin Di Pondok Pesantren Al-Barokah Ponorogo (Studi Living Qur'an). Undergraduate (S1) thesis, IAIN Ponorogo.
Preview |
Text
Skripsi Dwi Ade Karisma.pdf Download (1MB) | Preview |
Abstract
ABSTRAK
Kata Kunci: Tradisi, SuratYa>si>n, Living Qur’an.
Pembacaan Ya>si>n biasanya dilakukan dalam momen atau peristiwa tertentu. Seperti, pembacaan Ya>si>n di malam Jum’at, upacara, saat orang sakit, dan lain-lainnya. Namun, menariknya di Pondok Pesantren Al-Barokah, Mangunsuman, Siman, Ponorogo, pembacaan Ya>si>n dilaksanakan setiap hari secara istiqomah setelah salat Magrib dan Subuh. Penelitian ini membahas tradisi pembacaan Surah Ya>si>n di pesantren Al-Barokah. Tradisi ini menarik karena pembacaan Ya>si>n bukan hanya ritual keagamaan tetapi juga mengandung makna-makna di dalamnya.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan living Qur’an. Pengumpulan data dalam skirpsi ini menggunakan tiga metode, yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Penelitian ini berfokus pada pratik, motif dan makna pada tradisi pembacaan Ya>si>n di Pondok Pesantren Al-Barokah Ponorogo. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan teori motif Alfred Schutz dan sosiologi pengetahuan Karl Mannheim.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan pembacaan Surat Ya>si>n di Pondok Pesantren Al-Barokah menunjukkan mengandung makna motif dalam pembacaan Ya>si>n. Pertama, makna tujuan pada pembacaan ya>si>n, yaitu: agar mendapatkan pertolongan dan perlindungan dari Allah, agar mendapatkan keberkahan dari pembacaan Ya>si>n, agar mempererat hubungan antar santri, bertujuan mengikuti ajaran guru. Kedua, motif sebab, yaitu: merasakan fadilah dari pembacaan surah Ya>si>n, santri bisa menghafal surah Ya>si>n, mengikuti peraturan Pondok Pesantren, mengatahui fadilah dari pembacaan Ya>si>n, bentuk kebiasaan dari kecil, dan sebagai bentuk penghormatan kepada guru. Dalam perspektif teori Karl Mannheim, makna dari tradisi ini dianalisis melalui tiga pendekatan, yaitu makna objektif, makna ekspresif, dan makna dokumenter. Makna objektif mencerminkan bahwa amalan ini menjadi ciri khas pesantren, dilaksanakan secara istiqamah meskipun tidak diwajibkan, serta diyakini memiliki berbagai keutamaan seperti menolak bala’, memperlancar rezeki, menghapus dosa, dan mendatangkan pahala. Makna ekspresif terlihat dari dampak emosional dan spiritual yang dirasakan santri, seperti ketenangan hati, kemudahan doa dikabulkan, dan peningkatan spiritualitas. Adapun makna dokumenter menunjukkan bahwa praktik ini merupakan bagian dari jaringan keilmuan pesantren, simbol kesinambungan tradisi melalui ijazah, bentuk pewarisan nilai-nilai spiritual, serta upaya menjaga keaslian dan makna waktu dalam pelaksanaan tradisi tersebut.
| Item Type: | Thesis (Undergraduate (S1)) |
|---|---|
| Thesis Supervisor: | Moh. Alwy Amru Ghozali |
| Subjects: | 22 PHILOSOPHY AND RELIGIOUS STUDIES > 2299 Other Philosophy and Religious Studies > 229999 Philosophy and Religious Studies not elsewhere classified |
| Divisions: | Fakultas Ushuluddin dan Dakwah > Jurusan Ilmu Al Qur’an dan Tafsir |
| Depositing User: | Perpustakaan Pusat |
| Date Deposited: | 23 Jun 2025 08:17 |
| Last Modified: | 26 Jun 2025 02:58 |
| URI: | http://etheses.uinponorogo.ac.id/id/eprint/34251 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
