Putra, Gymnastiar Syah (2025) ..(GUNAKAN TTD ASLI BUKAN SCAN PADA LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI ETHESIS, UPLOAD ULANG).. TINJAUAN MAQÁSHID AL-SHARĪ'AH TERHADAP HAKIM YANG MENGABULKAN CERAI TALAK DALAM KONDISI HAID (STUDI KASUS PENGADILAN AGAMA TULUNGAGUNG). Undergraduate (S1) thesis, IAIN PONOROGO.
Preview |
Text
PERPUS SKRIPSI LOGO.pdf Download (2MB) | Preview |
Abstract
Menjatuhkan talak merupakan pilihan alternatif terakhir sebagai jalan yang boleh ditempuh oleh pasangan suami istri namun dalam pelaksanaannya harus sesuai aturan yang berlaku dengan menjatuhkan suatu talak itu harus didepan Pengadilan Agama dan tidak boleh dijatuhkan ketika istri dalam keadaan haid, sesuai yang diatur dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) tentang perceraian pasal 122 yang berbunyi Talak bid`I adalah talak yang dilarang, yaitu talak yang dijatuhkan pada waktu ketika istri dalam keadaan haid atau istri dalam keadaan suci tetapi sudah dicampuri pada waktu suci tersebut. Namun terdapat perbedaan praktik hakim Pengadilan Agama Tulungagung ketika mengabulkan cerai talak ketika istri dalam kondisi haid.
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimana pandangan hakim Pengadilan Agama Tulungagung terhadap akibat hukum menjatuhkan putusan talak dalam keadaan haid ? Bagaimana pandangan Maqāshid Al-Sharī'ah terhadap praktik hakim Pengadilan Agama Tulungagung terkait menjatuhkan putusan talak dalam keadaan haid ?
Pada skripsi ini menggunakan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian lapangan (fieldresearch) maka penelitian ini merupakan kegiatan penelitian yang dilakukan langsung dengan objek yang akan diteliti dengan menggunakan pendekatan metode empiris. Sedangkan teknik pengumpulan data melakukan penelitian melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Metode analisis yang digunakan dalam skripsi ini adalah metode induktif.
Dari penelitian yang dilakukan penulis memperoleh jawaban pandangan hakim Pengadilan Agama Tulungagung terhadap akibat hukum menjatuhkan putusan talak dalam keadaan haid ketika persidangan ikrar talak istri dalam keadaan haid, dikatakan sebagai talak bid'i dan hakim juga tidak berani untuk memutuskan langsung perkara tersebut, kecuali atas persetujuan kedua belah pihak suami istri tersebut. Dan Pandangan Maqāshid Al-Sharī'ahterhadap praktik hakim Pengadilan Agama Tulungagung terkait menjatuhkan putusan talak dalam keadaan haid sesuai sesuai dengan salah satu tujuan utama dari diterapkannya syariat Islam adalah untuk menjaga dan melindungi keturunan (hifdz nasl), dan menjatuhkan putusan talak dalam keadaan istri sedang haid sesuai dengan tingkatan hajiyat yang mengharuskan hakim memperbolehkan talak tersebut dijatuhkan dengan mempertimbangkan deri segi kemaslahatannya, jika talak tersebut tidak segera dilakukan maka akan menyebabkan kesulitan.
| Item Type: | Thesis (Undergraduate (S1)) |
|---|---|
| Subjects: | 18 LAW AND LEGAL STUDIES > 1899 Other Law and Legal Studies > 189999 Law and Legal Studies not elsewhere classified |
| Depositing User: | Perpustakaan Pusat |
| Date Deposited: | 24 Jun 2025 07:11 |
| Last Modified: | 24 Jun 2025 07:11 |
| URI: | http://etheses.uinponorogo.ac.id/id/eprint/34337 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
