Hambali, Ridwan (2025) Negosiasi Budaya Islām dengan Jāhilīyah Modern dalam Maʿālim fī al-Ṭarīq karya Sayyid Quṭb. Undergraduate (S1) thesis, IAIN Ponorogo.
Preview |
Text
SKRIPSI UPLOAD E-THESIS.pdf Download (2MB) | Preview |
Abstract
Hambali, Ridwan. 2025. Negosiasi Budaya Islām dengan Jāhilīyah Modern dalam Maʿālim fī al-Ṭarīq karya Sayyid Quṭb. Skripsi Jurusan Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah. Institut Agama Islām Negeri (IAIN) Ponorogo. Pembimbing: Dr. Muhammad Irfan Riyadi, M.Ag.
Kata Kunci: Negosiasi Budaya, Budaya Islām, Jāhilīyah Modern, Sayyid Quṭb.
Islām dan budaya saat ini dalam perkembangannya memiliki hubungan yang kompleks. Namun modernisasi dan globalisasi sering menjadi tantangan tersediri bagi identitas umat muslim. Pemikiran Sayyid Quṭb, khususnya Jāhilīyah modern dalam Maʿālim fī al-Ṭarīq, merupakan kritik tajam terhadap peradaban sekuler. Di Indonesia, manifestasi Jāhilīyah modern meliputi beragam fenomena. Modernitas yang harus berpegang teguh pada prinsip-prinsip Islām justru menjadi masalah akibat ketidakpuasan intelektual umat Islām. Kajian ini mengkaji bagaimana umat
Islām menegasikan dirinya ditengah arus globalisasi perspektif sayyid Quṭb dalam Maʿālim fī al-Ṭarīq.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pemahaman Jāhilīyah modern, negosiasi budaya Islām menurut Sayyid Quṭb dalam Maʿālim fī al-Ṭarīq, serta relevansinya terhadap kondisi sosial – budaya keagamaan di Indonesia. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan analisis isi (content analysis) dan deskriptif – kualitatif, berdasarkan kutipan-kutipan langsung dari Maʿālim fī al-Ṭarīq serta dibingkai dengan teori budaya dan negosiasi identitas dari John W. Berry, Kevin Avruch, dan Stella Ting-Toome. Data utama dalam penelitian ini adalah Maʿālim fī al-Ṭarīq dan disertai data pendukung lainnya.
Hasil penelitian menunjukan Jāhilīyah modern adalah rekonseptualisasi Jāhilīyah yang dikembangkan oleh Sayyid Quṭb yang termanifestasikan dalam masyarakat kontemporer ditandai dengan penolakan terhadap ḥākimiyyah Allah dan tidak menjadikan tauhid sebagai pondasi. Oleh karena itu negosiasi budaya Islām terhadap Jāhilīyah modern secara tegas terjadi resistensi (penolakan) serta pemisahan ideologis (Mufāṣalah). Negosiasi budaya Islām terhadap Jāhilīyah modern, dalam bingkai teori John W. Berry termasuk dalam kategori separation (Pemisahan), Kevin Avruch sebagai pembentukan identitas budaya baru untuk melawan pengaruh budaya dominan, sedangkan dalam bingkai Ting-Toomey cenderung menolak budaya yang bertumpu pada pertukaran nilai, adaptasi identitas budaya, dan penciptaan ruang untuk dialog antarbudaya. Relevansi pemikiran Sayyid Quṭb tidak dapat dipungkiri. Akan tetapi, pemahaman literal dan aplikasi yang tidak kontekstual terhadap gagasannya kerap menjadi justifikasi bagi perilaku ekstremis. Oleh karena itu, meskipun pemikirannya berkontribusi penting dalam studi Islām dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam kondisi sosial-budaya di Indonesia diperlukan pendekatan yang moderat dan adaptif untuk mengakomodasi kompleksitas konteks kontemporer.
| Item Type: | Thesis (Undergraduate (S1)) |
|---|---|
| Thesis Supervisor: | Muh. Irfan Riyadi |
| Subjects: | 22 PHILOSOPHY AND RELIGIOUS STUDIES > 2299 Other Philosophy and Religious Studies > 229999 Philosophy and Religious Studies not elsewhere classified |
| Divisions: | Fakultas Ushuluddin dan Dakwah > Jurusan Ilmu Al Qur’an dan Tafsir |
| Depositing User: | Perpustakaan Pusat |
| Date Deposited: | 25 Jun 2025 04:00 |
| Last Modified: | 25 Jun 2025 04:00 |
| URI: | http://etheses.uinponorogo.ac.id/id/eprint/34418 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
